<div style='background-color: none transparent;'></div>

Popular Post


Home » » PERANAN KELUARGA DALAM PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA

PERANAN KELUARGA DALAM PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA


BAB I
PENDAHULUAN

Islam adalah agama yang sangat peduli terhadap pendidikan. Islam menerapkan sistem pendidikan sepanjang hayat, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahad”.
Bila kita cermati di dalam hadits ini ditegaskan bahwa tonggak awal pendidikan terjadi di dalam lingkup keluarga. Sebelum seorang anak mengenal lingkungan, masyarakat, sekolah dan dunia luar lainnya. Dia terlebih dahulu dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya terutama kedua orang tuanya.
Dapat kita pahami bahwa pertama kali seorang anak mendapatkan pendidikan dari keluarganya. Hal pertama yang sangat penting ditanamkan dalam diri anak dalam proses pendidikannya yang pertama ini adalah penanaman nilai-nilai agama. Ini sangat penting karena sedini mungkin di dalam diri anak harus dibangun besic agama yang kuat sebagai bekal baginya untuk menjalani kehidupannya.
Penanaman dan pembinaan pendidikan agama pada diri anak menurut peran aktif keluarganya yang tidak bisa diabaikan begitu sja. Adalah kesalahan yang sangat fatal bila menyerahkan pembinaan pendidikan agama anak pada lingkungan, masyarakat maupun sekolah saja. Hal ini disebabkan tanggung jawab pendidikan agama yang paling awal bagi anak terletak di pundak orang tuanya.
Di dalam makalah ini insya Allah kita akan membahas bagaimana idealnya peran keluarga dalam pembinaan pendidikan agama anak. Dalam hal ini kita akan menyoroti bagaimana konsep Islam terhadap pendidikan dalam keluarga, fase-fase pendidikan yang diberikan kepada anak, urgensi pembinaan pendidikan agama terhadap anak dalam keluarga, maupun hal-hal lain yang berkaitan erat dengan peran keluarga dalam pembinaan pendidikan agama.
Penulisan makalah ini di dukung berbagai leteratur, baik berupa buku-buku yang relevan, internet dan media lainnya. Untuk memperdalam wawawan kita tentang materi dalam makalah ini dapat dilakukan dengan merujuk literatur aslinya yang kami cantumkan dalam bentuk foot note maupun daftar pustaka.

BAB II
PERANAN KELUARGA DALAM PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA

A. Konsep Pendidikan dalam Keluarga Menurut Islam
Dalam ajaran Islam, anak merupakan amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan. Dlaam ruang lingkup keluarga, orang tua bertanggung jawab terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesempurnaan pribadi anak menuju kematangannya. Secara umum, inti dari tanggung jawab itu adalah penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak di dalam rumah tangga.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama bagi anak. Karena secara kodrati, keluarga merupakan absis penentu dalam pengembangan pendidikan anak pada masa depan. Dalam keluarga terjadai intraksi antara satu dengan lainnya sehingga terjadi proses transformasi nilai, baik spritual maupun sosio kultural.
Secara umum, dunia mengakui pendidikan sidini mungkin sangat penting bagi anak. Disisi lain, Islam mengajarkan lebih dari itu, bahwa pendidikan itu telah berlangsung sejak dalam kandungan. Ini sejalan dengan hadits Rasulullah saw, yang artinya: “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahad”. Lebih jauh lagi, sebelum memilih jogohpun seseorang harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan menjaga dirinya dari hal-hal yang dilarang agama. Ini merupakan bentuk pembiasaan diri yang dimulai dari diri sendiri demi mempersiapkan keturunannya kelak. Begitu juga dalam memilih jodoh, Islam menetapkan beberapa syarat yang juga memberi implikasi terhadap kualitas keturunan kelak.
Dalam konteks edukatif, maka sebuah keluarga muslim yang paling utama adalah berfungsi dalam memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan. Rasulullah saw bersabda:
ﻋﻟﻣﻭٰﺍﻭﻻﺩﻛﻡﻭﺍﻫﻟﻳﻛﻡﺍﻟﺧﻴﺭﻮﺍﺩﺑﻭﻫﻡ
“Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anak kamu dan keluarga kamu dan didiklah mereka. (H.R. Abdur Razaq dan said bin Mansur).
Hadits di atas menunjukkan bahwa Islam senagat memperhatikan pendidikan anak dalam keluarga. Kita tentu sepakat bahwa tidak ada yang lebih berbahaya terhadap masyarakat daripada kerusakan anak-anak sebagai generasi pengganti dan pemimpin masa depan kita. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan hal ini dengan perhatian yang khusus dari sisi pendidikan mereka. Yakni dengan pendidikan yang memberikan jaminan keamanan dan kebahagian bagi kaum muslim. Cikal bakal pendidikan anak dimulai dari dalam setiap rumah tangga di bawah naungan kedua orang tuanya.

B. Ornag Tua Sebagai Central Teacher dalam Keluarga
Di dalam keluarga, orang tua berperan sebagai pendidik yang utama bagi anak-anaknya. Idealnya orang tua diharapkan dapat membimbing, mendidik, melatih dan mengajar anak dalam masalah-masalah yanga menyangkut pembentukan kepribadian dan kegiatan belajar anak.
Pendidikan dalam keluarga adalah upaya pembinaan yang dilakukan orang tua terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembanga sebagaimana mestinya. Seluruh potensi anak dapat berkembang, yaitu jasmani, akal dan rohani. Ketida aspek ini merupakan sasaran pendidikan di dalam keluarga yang harus diperhatikan setiap orang tua.
Dalam konteks fungsi edukatif, maka sebuah keluarga muslim (dalam hal ini orang tua) yang paling utama berfungsi dalam memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan. Berkaitan dengan pemberian keyakinan agama, sesungguhnya anak memang dilahirkan dalam keadaan fitrah maka orang tuanyalah melalui pendidikan di keluarga yang akan menentukan apakah anak tersebut akan menjadi muslim, nasrani, majusi atau yahudi.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa peran orang tua dalam pendidikan anak di keluarga sangatlah besar. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa orang tua adalah central teacher dalam keluarga. Hal ini disebabkan setiap anak mendapatkan pendidikan pertama kali dan biasanya yang paling membekas dari orang tuanya.
Orang tua menjadi pendidik pertama dan utama. Kaedah ini ditetapkan secara qodrati, artinya orang tua tidak dapat berbuat lain, mereka harus menempati posis itu dalam keadaan bagaiamanapun juga. Karena mereka ditakdirkan menjadi orang tua anak yang dilahirkan. Oelh karena itu, mau tidak mau mereka harus menjadi penanggung jawab pertama dan utama. Kaedah ini diakui oelh semua agama dan semua sistem nilai yang dikenal manusia.
Ada pribahasa yang mengatakan “buah tidak jauh jatuh dari pohonnya”, artinya, seorang anak tidak akan jauh berbeda dengan watak, tabiat dan kebiasaan orang tuanya. Karena itu, pendidika keluarga yang diberikan oelh orang tua akan berimbas sangat besar terhadap anaknya. Proses pendidikan yang diberikan oelh orng tua kepada anaknya dapat melalui beberapa alat pendidikan (non fisik), yaitu, keteladanan, pembiasaan, hukuman dan ganjaran, dan pengawasan. Alat pendidikan non fisik ini dapat difungsikan oleh orang tua di rumah (dalam keluarga) untuk mempengaruhi anak agar melaksanakan nilai-nilai kebaikan dan membina perkembangan potensi dirinya.
Bila alat pendidikan non fisik ini dimanfaatkan secara maksimal oleh orang tua ke arah yang positif maka akan berimbas positif pula terhadap perkembangan anak. Sebaliknya jika alat pendidikan non fisik ini disalah gunakan oleh orang tua, maka akan berdampak negative terhadap diri anak. Contohnya bila orang tua memberi keteladanan dengan sikap dan perbuatan yang baik, maka anak akan cenderung untuk mengikuti sikap dan perbuatan baik tersebut. Begitu juga sebaliknya.

C. Urgensi Penerapan/ Pembinaan Pendidikan Agama terhadap Anak dalam Keluarga
Pendidikan agama merupakan pendidikan dasar yang harus diberikan kepada anak sejak dini mengingat bahwa pribadi anak masih mudah untuk dibentuk. Setiap anak berada di bawah pengaruh lingkungan keluarganya. Keluarga merupakan lembaga yang sangat strategis dalam proses pendidikan bagi anak. Mengingat fungsi strategis tersebut, maka pendidikan agama yang merupakan pendidikan dasar harus dimulai dari lingkungan keluarga oleh orang tua.
Pendidikan agama dan spritual termasuk bidang-bidang pendidikan yang harus dapat perhatian penuh dari keluarga terhdap anak-anaknya. Pendidikan agama dan spritual ini berarti membangkitkan kekuatan dan kesediaan spritual yang bersifat naluri yang ada pada anak-anak melalui bimbingan agama dan pengamalan ajaran-ajaran agama.
Dari segi kegunaan, pendidikan agama dalam rumah tangga berfungsi sebagai berikut:
# Penanaman nilai dalam arti pandangan hidup yang kelak mewarnai perkembangan jasmani dan akalnya.
# Penanaman sikap yang kelak menjadi basis dalam menghargai hidup dan pengetahuan di sekolah.

Pembinaan pendidikan bagi anak di dalam keluarga memiliki kedudukan yang sangat urgen, keluarga menjadi lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Karena itu, pendidikan agama idealnya ditanamkan pertama kali di dalam keluarga.
Bekal pendidikan yang diperoleh anak dari lingkungan keluarga akan memberinya kemampuan untuk menentukan arah di tengah-tengah kemajuan yang demikian pesat. Keluarga muslim merupakan keluarga-keluarga yang mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mendidik generasi-generasinya untuk mampu terhindar dari berbagai bentuk tindakan yang menyimpang. Oleh sebab itu, perbaikan pola pendidikan anak dalam keluarga merupakan sebuah keharusan dan membutuhkan perhatian yang serius. Hal yang tidak bisa kita abaikan adalah bahwa tujuan utama pembinaan pendidikan agama dalam keluarga adalah penanaman iman dan akhlaq terhadap diri anak.
Pembentukan kepribadian anak sangat erat kaitannya dengan pembinaan iman dan akhlak yang ditanamkan melalui pendidikan agama. Secara umum, pakar-pakar kejiwaan berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu mekanisme yang mengendalikan dan mengarahkan sikap dan prilaku seseorang. Keperibadian terbentuk melalui semua pengamalan dan nilai-nilai yang diserap dalam pertumbuhannya, terutama pada tahun-tahun pertama umurnya. Apabila nilai-nilai agama banyak masuk ke dalam pembentukan kepribadian seseorang, tingkah laku orang tersebut akan diarahkan dan dikendalikan oleh nilai-nilai agma. Di sinilah letak urgensi pembinaan pendidikan agama terhadap anak di dalam keluarga, khususnya pada masa-masa perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut. Oleh sebab itu keterlibatan orng tua dalam pembinaan pendidikan anak di keluarga sangat diperlukan.
Sedangkan menurut al-Qurasyi ada tiga tugas keluarga (orang tua), yaitu:
1. keluarga bertanggung jawab menyelamatkan faktor-faktor ketenangan, cinta kasih, serta kedamaian dalam rumah, dan menghilangkan segala macam kekerasan, kebencian dan antagonisme.
2. Keluarga harus mengawasi proses-proses pendidikan.
3. Keluarga harus memberikan porsi yang besar pada pendidikan akhlak, emosi serta agama anak-anak di sepanjang tingkat usia yang berbeda-beda.

D. Pendidikan Pra Natal
Pendidikan merupakan suatu proses yang terdiri dari beberapa fase secara garis besar ada dua fase dalam pelaksanaan proses pendidikan, yaitu pendidikan pra natal 9pra konsepsi dan pasca konsepsi) dan pendidikan pasca natal (pendidikan setelah kelahiran).
Fase pranatal adalah fase sebelum kelahiran anak. Fase pranatal terbagi kepada dua masa pra konsepsi (masa sebelum terjadinya pertemuan antara sperma dan sel ovum) dan masa pasca konsepsi (masa kehamilan).
Pada masa pra konsepsi berkait erat dengan tujuan pernikahan. Pernikahan di dalam Islam salah satu tujuannya adalah untuk memelihara keturunan. Karena itu, mulai proses memilih jodoh telah berorientasi pada kepedulian utama dalam merancang pendidikan anak. Mulai proses persiapan diri seorng mukmin untuk menikah, memilih jodoh, pernikahan sampai ketika telah diporbelehkan melakukan hubungan suami istrei dalam konsep Islam terdapat nilai-nilai pendidikan yang sangat berharga yang berimplikasi pada kualitas keturunan.
Nilai-nilai pendidikan itu terdapat antara lain pada konsep Islam dalam menentukan syarat-syarat memilih jodoh yang mengutamakan agama sebagai kriteria yang tidak dapat ditawar-tawar, ta’aruf dan peminangan untuk lebih mengetahui latar belakang calon pasangan hisup yang akan dinikahi, resepsi atau walimatul ‘ursy yang dilengkapi dengan khutbah pernikahan, bahkan setelah halal melakukan persetubuhanpun Islam mengajarkan agar membaca doa sebelumnya sehingga pasangan suami isteri dan anak yang (mungkin) akan dikaruniakan Allah SWT dijauhkan dari syaitan.
Pendidikan pada masa pasca konsepsi bersifat tidak langsung (indirect education). Pada fase pranatal pasca konsepsi terjadi pertumbuhan yang penting di dalam rahim ibu. Suasana kesehatan dan kejiwaan ibu sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dalam rahimnya. Rangsangan yang diberikan ibu kepada anaknya dalam rahim sangat penting bagi perkembangan selanjutnya. Ibu sebaiknya mengaktifkan komunikasi pada anak sejak dalam rahim.
Memasuki bulan keenam dan ketujuh pada masa kehamilan, bayi mulai mendengar suara-suara seperti detak jantung ibu, suaru usus dan paru-paru, dan juga suara lain di luar rahim. Semua itu didengarkan melalui getaran ketuban yang ada dalam rahim. Suara ibu adalah suara manusia yang paling jelas di dengar anak, sehingga suara ibu menjadi suara manusia yang paling disukai anak. Anak menjadi tenang ketika ibunya menepuk-nepuk perutnya sambil membisikkan kata-kata manis. Hal ini akan menggoreskan memori di otak anak. Semakin sering hal itu diulang semakin kuat getaran itu pada otak anak. Kemampuan mendengar ini sebaiknya digunakan oleh ibu untuk membuat anaknya terbiasa dengan ayat-ayat al-Qur’an. Karena suara ibulah yang paling jelas maka yang terbaik bagi anak dalam rahim adalah bacaan ayat al_qur’an oleh ibunya sendiri, bukan dari tape, radio atau dari yang lain. Semakin sering ibu membaca al-Qur’an selama kehamilan, semakin kuatlah getaran memori al-Qur’an di otak anak.
Selain membaca al-Qur’an orang tua dapat memberikan pendidikan pada fase pasca konsepsi dengan mendoakan anak di dalam kandungannya, menjaga kesehatan dan memakan makanan yang bergizi (halal dan baik), meluruskan niatnya dengan ikhlas merawat kandungannya semata karena Allah, mendekatkan diri kepada Allah baik dengan ibadah-ibadah wajib maupun memperbanyak ibadah sunnah serta berakhlak mulia sehingga memberi pengaruh postitif kepada anak di dalam kandungannya.

E. Pendidikan Pasca Natal
Pendidikan pasca natal terbagi menjadi lima fase, yaitu:
1. Pendidikan bayi (infancy or babyhood)
Fase ini berlangsung sejak anak tersebut lahir sampai berumur dua tahun. Pada fase ini anak didominasi oleh aktivitas merekam. Pada umumnya setiap bayi sangat tergantung pada bantuan orang lain terutama ibunya.
Bagi anak yang baru lahir, beberapa pesan dianjurkan Rasulullah saw, agar diterapkan yang merupakan pelaksanaan pendidikan bagi bayi, diantaranya:
- Azan dan iqomat, yang mengandung hikmah memberikan seruan suci untuk beribadah kepada Allah SWT. Melalui azan dan iqamat seorang anak dikenalkan kepada rabbnya.
- Mencukur rambut bayi, yang mengandung unsur kebersihan dan kesehatan.
- Tasmiyah, memberi nama yang baik kepada anak karena nama merupakan cerminan harapan do’a. memberikan nama yang baik mengandung unsur pendidikan yang memberi pengaruh terhdap anak kelak di masa dewasa, diharapkan anak akan tumbuh sesui denga kabaikan yang tecermin dari namanya.
- Aqidah, ini mengandung hikmah pengorbanan dan tanggung jawab orang tua kepada anaknya serta indikator ketaqwaan kepada Allah SWT.
- Khitan, unsur pendidikan dari khitan ini melatih anak mengikuti ajaran Rasul, khitan membedakan pemeluk Islam dan pemeluk agama lain, khitan merupakan pengakuan penghambaan manusia terhadap Allah SWT, khitan membersihkan badan dan berguna bagi kesehatan.
- Menyusui, mengandung unsur pendidikan yang sangat baik, terutama curahan kasih sayang kepada anak yang dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Selain itu, ASI juga bak untuk kesehatan, pertumbuhan, perkembangan fisik bahkan kecerdasan anak.

2. Pendidikan Kanak-kanak (early childhood)
Masa kanak-kanak berlangsung dari usia 2-5 atau 6 tahun dan disebut juga dengan masa estetika, ams indera dan masa menentang orang tua. Pada fase ini anak didominasi oleh aktivitas merekam dan meniru. Umumnya perkembangan anak lebih cepat, sehingga aktivitas meniru muncul lebih cepat. Pada masa-masa inilah lingkungan keluarga memberikan nilai-nilai pendidikan lewat kehidupan sehari-hari. Semua orang yang berada di lingkungan keluarga khususnya memberikan perlakuan dan keteladanan yang baik secara konsisten. Ketika anak sudah mulai bermain di luar rumah, kelarga harus bisa membentengi anak dari nilai-nilai atau contoh buruk yang ada di luar.
Manurut Fatima Harren fase ini merupakan fase cerit dan pembiasaan. Pada saat inilah terdapat lapangan yang luas bagi orang tua untuk menggali cerita-certia al-Qur’an dan sejarah perjuangan Islam.
Pada usia ini sangat disarankan agar dalam mendidik anak, orang tua tidak boleh terlalu lembut ataupun terlalu ekstrim. Orang tua harus memahami bahwa anak di usia ini sangat senang bermain. Hendaknya orang tua bisa bijaksana dengan menanamkan nilai-nilai pendidikan agama kepada anak sambil bermain sehingga anak tidak merasa bosan dan terpaksa. Kebiasaan dan pembiasaan pada anak akan sangat menetukan bagi keberhasilan pendidikan agamnya pada masa itu.

3. Pendidikan Anak-anak (late-childhood)
Fase ini terjadi pada usia 6-12 tahun. Pada fase ini anak diajarkan adab, sopan santun, akhlak, juga merupakan masa pelatihan kewajiban seorang muslim seperti shalat dan puasa.
Rasulullah saw bersabda yang artinya:
“ Apabila abak telah mencapai usia enam tahun, maka hendaklah diajarkan adab dan sopan santun”. (H.R. ibnu hibban).
Pada hadits yang lain, yang artinya:
“ Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah mereka pada usia sepuluh tahun bila mereka tidak sholat, dan pisahkan mereka dari tempat tidurnya (laki-laki dan perempuan)”. (H.R. Al-Hakim dan Abu Dawud).
Pada fase ini merupakan masa sekolah dasar bagi anak. Pada usia sekolah ini anak sudah berhubungan dengan temannya dalam kelompok bermain yang dpaat dimanfaatkan untuk menemkan pendidikan Islam, seperti rekreasi bersama untuk memperkenalkan keindahan alam ciptaan Allah, kerjasama dalam rangka berpartisipasi dalam sociaal keagamaan dan sebagainya.
Pada fase ini orang tua dituntut untuk :
- mengembangkan rasa iman dalam diri anak-anak
- Membiasakan anak-anak melakukan amalan-amalan sebagai permulaan hidup menurut Islam yang diridhoi Allah SWT.
- Memberikan bimbingan dalam menegakkan sifat-sifat kemasyarakatan anak.
- Memupuk kecerdasan, kecekatan dan keterampilan melalui latihan-latihan panca indra.
- Membantu anak mencapai kematangan fisik dan mental untuk belajar di sekolah.
- Membimbing dan membantunya dalam belajar di sekolah sesuai dengan tingkatannya sehingga dapat berprestasi di sekolahnya dan mencapai kesuksesan di masyarakat sesudahnya.

Adapun metode pendidikan yang dapat diterapkan pada fase ini yaitu keteladanan, pembiasaan dan latihan, kemudian serta berangsur-angsur diberikan penjelasan secara logis maknawai.

4. Pendidikan Remaja (Adolencence)
Fase ini umumnya berada antara laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki berusia mulai 13-22 tahun dan untuk perempuan 12-21 tahun. Pada fase ini si anak perlu mendapat bimbingan dan arahan dari orang tua secara arif dan bijaksana, sebab pada fase remaja ini anak akan mengalami perubahan-perubahan, baik jasmani maupun rohani. Fase ini sangat membutuhkan keteladanan dari orang tua, sebab orang tua adalah figur sentral yang menjadi pedoman bagi anak.
Fase remaja merupakan fase yang penuh gejolak. Anak di usia remaja umumnya sengat labil dan sibuk mencari jati dirinya, ego dan emosinya meninggi serta memiliki sikap mencoba-coba dan keingintahuan yang tinggi. Karena itulah dibutuhkan pengarahan dan pendidikan yang lebih intens bagi mereka.
Pada fase remaja anak dididik untuk memiliki sikap tanggung jawab dan memahami nilai-nilai ajaran agama. Perkembangan agama pada masa ini sangat penting. Apabila pemahaman dan pengamalan agama anak telah dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari kepada mereka, maka masalah pembinaan agama telah dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari kepada mereka, maka masalah pembinaan akhlak akan lebih mudah dilakukan, karena mereka telah terlatih memahami perintah agama dan men jauhi larangannya.

5. Pendidikan Dewasa
Fase dewasa terbagi tiga, yaitu:
# Dewasa awal (early adulthood), terjadi pada usia 21-40 tahun.
# Masa setengah baya (middle age), berlangsung antara usia 40-60 tahun dan biasanya orang-orang pada usia ini dikatakan mengalami pubertas kedua.
# Masa tua (old age/ senescence), berlangsung antara usia 60-wafat.

Pendidikan bagi orang dewasa dapat dilakukan melalui majelis ilmu, karena majelis ilmu sarat dengan dzikrullah sehingga memperoleh ketenangan jiwa dan jauh dari hinar binger dunia. Pada fase ini sebenarnya manusia sudah cukup matang, apalagi biasanya fase ini minimal menjalani setelah memasuki perguruan tinggi, dan dia telah mendapat bimbingan akhlak, moral dan agama sejak dini dari orang tuanya. Namun, pada fase dewasa manusia tetap membutuhkan pendidikan dan nasehat dari orang tua atau keluarganya terutama apabila ia melakukan kesalahan karena lupa atau lalai.
Memasuki usia dewasa bukan berarti mengakhiri kewajiban menjalani proses pendidikan. Islam mengajarkan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan tidak akan berhenti sebelum nyawa berpisah dari badan.
Dalam suatu hadits Rasulullah memerintahkan untuk mengajarkan kalimat Lailahaillallah kepada mukmin yang berada diambang kematian. Ini adalah batas akhir bagi pendidikan orang dewasa.

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat kita tarik beberapa kesimpulan, yaitu:
 Dalam konteks fungsi edukatif, maka sebuah keluarga muslim berfungsi dalam memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.
 Pendidikan anak dimulai dari dalam setiap rumah tangga di bawah naungan kedua orang tuanya.
 Pendidikan dalam keluarga adalah upaya pembinaan yang dilakukan orang tua terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya.
 Orang tua adalah central teacher dalam keluarga karena setiap anak mendapatkan pendidikan pertama kali dan biasanya yang paling membekas adalah dari orang tuanya.
 Prases pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya dapat melalalui beberapa alat pendidikan (non fisik), yaitu keteladanan, pembiasaan, hukuman dan ganjaran serta pengawasan.
 Sebagai sebuah proses, pendidikan mengalami beberapa fase yaitu:
o Fase pra natal, yang terdiri dari masa pra-konsepsi dan masa pasca konsepsi.
o Fase pasca natal, terdiri dari masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak-anak, masa remaja dan masa dewasa.
Share this article :

1 komentar:

A'an SyaifuL MaLik mengatakan...

artikel sangat bagus dan sangat berguna
terima kasih
http://mahkotazadan.com/

Poskan Komentar

 
Copyright © 2011. BADICT UNITED . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger